Artikel KPU Kab. Jayawijaya

Hari Gizi dan Makanan 25 Januari 2026: Pentingnya Pola Makan Sehat untuk Masa Depan Bangsa

Setiap tanggal 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi dan Makanan sebagai momentum penting untuk mengingatkan masyarakat akan peran gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan Hari Gizi dan Makanan 25 Januari 2026 menjadi pengingat bahwa kualitas sumber daya manusia tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan ekonomi, tetapi juga oleh asupan makanan yang sehat, aman, dan bergizi. Di tengah tantangan zaman modern, seperti pola makan instan dan gaya hidup kurang aktif, kesadaran akan pentingnya gizi seimbang menjadi isu yang semakin relevan untuk semua lapisan masyarakat. Bagi masyarakat Papua Pegunungan, khususnya di Kabupaten Jayawijaya, Hari Gizi dan Makanan 2026 bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi ajakan nyata untuk kembali memperhatikan kualitas konsumsi pangan keluarga. Ketersediaan pangan lokal yang beragam sebenarnya menjadi kekuatan tersendiri jika dikelola dengan baik. Melalui peringatan ini, diharapkan tumbuh pemahaman bahwa gizi yang baik berkontribusi langsung terhadap kesehatan, produktivitas, serta daya pikir masyarakat, sehingga mampu mendukung pembangunan daerah dan bangsa secara berkelanjutan. Baca Juga : Persagi Luncurkan Logo Resmi Bertema Generasi Emas 2045 Makna Hari Gizi dan Makanan bagi Masyarakat Hari Gizi dan Makanan diperingati untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang. Gizi yang cukup dan tepat berperan besar dalam mencegah berbagai masalah kesehatan, seperti stunting, anemia, obesitas, dan penyakit tidak menular. Peringatan ini juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam memilih makanan, tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyehatkan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, gizi seimbang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam porsi yang sesuai. Kesalahan pola makan yang berlangsung lama dapat berdampak pada kualitas hidup seseorang. Oleh karena itu, Hari Gizi dan Makanan menjadi momen refleksi bersama untuk memperbaiki kebiasaan konsumsi pangan, dimulai dari lingkungan keluarga. Tema Hari Gizi dan Makanan 25 Januari 2026 Setiap tahun, peringatan Hari Gizi dan Makanan biasanya mengusung tema yang relevan dengan kondisi masyarakat. Pada 25 Januari 2026, semangat yang diangkat adalah penguatan pola makan sehat berbasis pangan lokal. Tema ini menekankan bahwa sumber gizi tidak selalu harus mahal atau impor, tetapi dapat diperoleh dari bahan pangan yang tersedia di sekitar kita. Pangan lokal seperti umbi-umbian, sayuran, buah-buahan, ikan, dan hasil pertanian lainnya memiliki nilai gizi tinggi jika diolah dengan benar. Dengan memanfaatkan potensi lokal, masyarakat tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan perekonomian daerah. Tantangan Gizi di Era Modern Di era modern, tantangan gizi semakin kompleks. Makanan cepat saji dan minuman tinggi gula semakin mudah dijangkau, sementara aktivitas fisik cenderung menurun. Kondisi ini berpotensi memicu masalah gizi ganda, yaitu kekurangan gizi di satu sisi dan kelebihan gizi di sisi lain. Kurangnya literasi gizi juga menjadi persoalan tersendiri. Banyak orang belum memahami kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi setiap hari. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan sangat dibutuhkan agar masyarakat mampu membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan bertanggung jawab. Peran Keluarga dalam Mewujudkan Gizi Seimbang Keluarga memegang peran sentral dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat. Pola konsumsi anak sangat dipengaruhi oleh contoh dari orang tua. Menyediakan makanan bergizi di rumah, mengatur jadwal makan yang teratur, serta membiasakan konsumsi sayur dan buah merupakan langkah sederhana namun berdampak besar. Melalui peringatan Hari Gizi dan Makanan 25 Januari 2026, keluarga diajak untuk lebih peduli terhadap kualitas makanan yang disajikan. Tidak perlu berlebihan, yang terpenting adalah keseimbangan dan keberagaman menu sehari-hari. Gizi Seimbang dan Produktivitas Masyarakat Asupan gizi yang baik berbanding lurus dengan tingkat produktivitas. Tubuh yang sehat akan mendukung aktivitas kerja, belajar, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Sebaliknya, kekurangan gizi dapat menurunkan konsentrasi, daya tahan tubuh, dan semangat beraktivitas. Bagi daerah seperti Kabupaten Jayawijaya, peningkatan kualitas gizi masyarakat dapat menjadi salah satu kunci dalam mendorong pembangunan manusia. Masyarakat yang sehat akan lebih siap menghadapi tantangan dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Edukasi Gizi sebagai Investasi Jangka Panjang Edukasi gizi bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi tanggung jawab bersama. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi gizi yang mudah dipahami dan aplikatif. Hari Gizi dan Makanan menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi tersebut. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan mampu membangun kesadaran sejak dini bahwa pola makan sehat adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup.

KPU Kabupaten Jayawijaya Teken Perjanjian Kinerja 2026, Perkuat Tata Kelola dan Integritas Lembaga

KPU Kabupaten Jayawijaya terus menunjukkan komitmen dalam membangun tata kelola kelembagaan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kinerja. Hal ini diwujudkan melalui Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2026 sebagai langkah strategis untuk memperkuat pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemilu di daerah. Penandatanganan perjanjian kinerja ini menjadi bagian penting dari upaya peningkatan kualitas kinerja KPU Kabupaten Jayawijaya, sekaligus mempertegas komitmen seluruh jajaran dalam mendukung penyelenggaraan pemilu yang transparan, efektif, dan berintegritas. Momentum ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menjadi fondasi dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih baik serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu. Baca Juga : Pelantikan Pejabat Fungsional KPU Kabupaten Jayawijaya : Penguatan Profesionalisme dan Integritas Aparatur Pemilu Komitmen KPU Kabupaten Jayawijaya dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Perjanjian kinerja merupakan instrumen manajemen yang digunakan untuk memastikan setiap unit kerja memiliki target yang jelas, terukur, dan selaras dengan tujuan organisasi. Dalam konteks KPU Kabupaten Jayawijaya, perjanjian kinerja menjadi pedoman bagi seluruh jajaran dalam menjalankan tugas penyelenggaraan pemilu secara optimal. Melalui penandatanganan perjanjian kinerja tahun 2026, KPU Kabupaten Jayawijaya menegaskan komitmen untuk: Meningkatkan profesionalisme aparatur penyelenggara pemilu Memperkuat akuntabilitas dan transparansi kinerja Mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan Menjaga integritas dan independensi lembaga Langkah ini sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) serta nilai-nilai dasar aparatur sipil negara yang menekankan integritas, kolaborasi, dan orientasi pada hasil. Strategi Penguatan Tata Kelola Penyelenggaraan Pemilu Dalam penyelenggaraan pemilu, kualitas tata kelola kelembagaan menjadi faktor penentu keberhasilan. KPU Kabupaten Jayawijaya memahami bahwa pemilu yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh sistem manajemen organisasi yang solid. Perjanjian kinerja tahun 2026 dirancang untuk memperkuat berbagai aspek strategis, antara lain: 1. Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Setiap unit kerja dan individu di lingkungan KPU Kabupaten Jayawijaya memiliki target kinerja yang jelas. Hal ini memungkinkan evaluasi yang objektif terhadap capaian kerja, sekaligus mendorong budaya kerja yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. 2. Penguatan Integritas Penyelenggara Pemilu Integritas merupakan nilai utama dalam penyelenggaraan pemilu. Dengan perjanjian kinerja, seluruh jajaran KPU Kabupaten Jayawijaya berkomitmen menjaga netralitas, independensi, dan profesionalisme dalam setiap tahapan pemilu. 3. Sinergi Internal dan Eksternal Penandatanganan perjanjian kinerja juga mendorong terbangunnya sinergi antarunit kerja serta kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Bawaslu, pemerintah daerah, dan masyarakat. Sinergi ini penting untuk memastikan penyelenggaraan pemilu berjalan efektif dan partisipatif. Perjanjian Kinerja sebagai Fondasi Pemilu Berkualitas Pemilu yang berkualitas lahir dari proses penyelenggaraan yang terencana, terukur, dan diawasi secara ketat. Dalam konteks ini, perjanjian kinerja menjadi instrumen penting untuk memastikan seluruh tahapan pemilu dilaksanakan sesuai dengan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (LUBER JURDIL). KPU Kabupaten Jayawijaya menempatkan perjanjian kinerja sebagai bagian dari reformasi birokrasi dan modernisasi tata kelola pemilu. Dengan sistem kerja yang lebih terstruktur, lembaga diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan penyelenggaraan pemilu di masa depan.

SEA Games: Ajang Persatuan Asia Tenggara di Panggung Olahraga Regional

Jayawijaya - Southeast Asian Games (SEA Games) merupakan ajang olahraga dua tahunan yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari negara-negara Asia Tenggara. Sejak pertama kali digelar pada 1959, SEA Games berkembang menjadi perhelatan prestisius yang tidak hanya mengukur kemampuan atlet, tetapi juga mempererat persahabatan antarbangsa di kawasan. Sejarah Singkat SEA Games SEA Games berawal dari SEAP Games (Southeast Asian Peninsular Games) yang diprakarsai oleh Laung Sukhumnaipradit dari Thailand. Tujuannya sederhana namun visioner: memperkuat hubungan regional melalui olahraga. Seiring waktu, cakupan peserta meluas dan pada 1977 nama resmi berubah menjadi SEA Games. Negara peserta saat ini meliputi: Indonesia Malaysia Singapura Thailand Filipina Vietnam Myanmar Laos Kamboja Brunei Darussalam Timor Leste Cabang Olahraga dan Kekhasan SEA Games SEA Games mempertandingkan puluhan cabang olahraga, mulai dari: Cabang Olimpiade (atletik, renang, bulu tangkis) Cabang populer regional (sepak takraw, pencak silat) Cabang khas tuan rumah yang mencerminkan budaya lokal Kekhasan ini menjadikan SEA Games unik dibanding ajang multievent regional lainnya. Peran SEA Games bagi Atlet dan Negara 1. Panggung Pembinaan Atlet SEA Games sering menjadi batu loncatan atlet muda menuju ajang yang lebih besar seperti Asian Games dan Olimpiade. 2. Penguatan Nasionalisme Prestasi atlet di SEA Games kerap memicu kebanggaan nasional dan memperkuat persatuan masyarakat. 3. Diplomasi Olahraga SEA Games berfungsi sebagai soft diplomacy, mempererat hubungan antarnegara melalui kompetisi yang menjunjung sportivitas. Indonesia di SEA Games Indonesia termasuk negara dengan sejarah panjang dan prestasi kuat di SEA Games. Cabang seperti bulu tangkis, angkat besi, pencak silat, dan dayung kerap menjadi lumbung medali. Tuan rumah SEA Games juga menjadi momentum pembangunan infrastruktur olahraga nasional. Tantangan dan Kritik Meski bergengsi, SEA Games tidak lepas dari kritik: Penambahan cabang non-standar demi keuntungan tuan rumah Ketimpangan fasilitas dan anggaran Isu profesionalisme penyelenggaraan Namun, upaya reformasi terus dilakukan oleh SEA Games Federation (SEAGF). SEA Games dan Dampak Ekonomi Penyelenggaraan SEA Games berdampak pada: Pariwisata dan ekonomi lokal Pembangunan infrastruktur Lapangan kerja sementara Efek jangka panjangnya bergantung pada perencanaan pasca-event yang berkelanjutan. Masa Depan SEA Games Di tengah globalisasi olahraga, SEA Games dituntut untuk: Meningkatkan standar kompetisi Menjaga relevansi cabang olahraga Menguatkan nilai sportivitas dan persatuan regional Dengan pembaruan berkelanjutan, SEA Games tetap menjadi simbol kebersamaan Asia Tenggara. (Gholib) Referensi: Guttmann, Allen – From Ritual to Record: The Nature of Modern Sports Allison, Lincoln – The Global Politics of Sport Houlihan, Barrie – Sport and International Politics Coakley, Jay – Sports in Society: Issues and Controversies Lutan, Rusli – Olahraga dan Etika Kemenpora RI – Sejarah dan Kebijakan Olahraga Nasional

Tragedi Kapal Van der Wijck: Tenggelamnya Kapal, Terbukanya Luka Sejarah Pelayaran Nusantara

Jayawijaya - Nama Kapal Van der Wijck tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tragedi pelayaran terbesar di masa Hindia Belanda. Kapal penumpang milik perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) ini tenggelam pada 20 Oktober 1936 di perairan Laut Jawa, menewaskan ratusan penumpang dan awak kapal. Peristiwa ini tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga memicu evaluasi besar terhadap standar keselamatan pelayaran kolonial. Profil Kapal Van der Wijck Kapal SS Van der Wijck merupakan kapal penumpang dan barang yang melayani rute antarpelabuhan di Nusantara, seperti: Surabaya Batavia (Jakarta) Semarang Pontianak Kapal ini mengangkut penumpang Eropa, pribumi, dan Tionghoa, mencerminkan mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat kolonial pada masa itu. Kronologi Tenggelamnya Kapal Pada pelayaran terakhirnya dari Surabaya menuju Batavia, Kapal Van der Wijck mengalami: Cuaca buruk dan gelombang tinggi Kebocoran serius pada lambung kapal Kegagalan teknis yang diduga akibat kerusakan struktural Air laut masuk dengan cepat, menyebabkan kapal miring dan akhirnya tenggelam. Proses evakuasi berlangsung kacau karena: Keterbatasan sekoci Kurangnya pelatihan darurat Kepanikan penumpang Ratusan orang dinyatakan tewas atau hilang di laut. Korban dan Dampak Kemanusiaan Tragedi ini menelan lebih dari 400 korban jiwa (angka bervariasi dalam berbagai sumber sejarah). Banyak korban berasal dari kalangan pribumi yang berada di kelas penumpang bawah, memunculkan kritik tajam terhadap: Diskriminasi kelas di kapal Standar keselamatan yang timpang Prioritas penyelamatan penumpang Eropa Respons Pemerintah Kolonial Pemerintah Hindia Belanda membentuk komisi penyelidikan untuk mengungkap penyebab tenggelamnya kapal. Hasil penyelidikan menyoroti: Kondisi kapal yang sudah tua Perawatan yang tidak optimal Lemahnya regulasi keselamatan Tragedi ini mendorong pembaruan dalam: Aturan inspeksi kapal Ketersediaan alat keselamatan Prosedur evakuasi penumpang Kapal Van der Wijck dalam Ingatan Sejarah Peristiwa tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi: Simbol kelalaian keselamatan pelayaran Cermin ketimpangan sosial kolonial Pelajaran penting dalam manajemen transportasi laut Nama Van der Wijck juga sering disalahartikan sebagai rujukan pada novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya HAMKA. Meski judulnya sama, novel tersebut adalah karya fiksi, bukan laporan langsung tragedi 1936, meskipun terinspirasi oleh konteks sosial zamannya. Pelajaran dari Tragedi Van der Wijck Beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik: Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama Regulasi dan pengawasan pelayaran tidak boleh kompromi Transportasi laut memiliki dimensi kemanusiaan dan keadilan sosial (Gholib) Referensi: Vickers, Adrian – A History of Modern Indonesia Lindblad, J. Thomas – Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan Dick, Howard et al. – The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia Ricklefs, M.C. – A History of Modern Indonesia since c.1200 HAMKA – Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (sebagai konteks sastra dan sosial) Arsip KPM & Hindia Belanda – Dokumentasi Pelayaran Kolonial

Longsor Mengintai Negeri: Ancaman Senyap di Balik Lereng dan Hujan Ekstrem

Jayawijaya - Bencana tanah longsor terus menjadi salah satu ancaman serius di wilayah bergunung dan berlereng curam. Intensitas hujan yang meningkat akibat perubahan iklim, ditambah alih fungsi lahan, menjadikan longsor kian sering terjadi dan menelan korban jiwa serta kerugian material. Indonesia dengan topografi pegunungan dan curah hujan tinggi—termasuk negara dengan risiko longsor yang tinggi. Apa Itu Longsor? Longsor adalah pergerakan massa tanah, batuan, atau material campuran menuruni lereng akibat gaya gravitasi. Peristiwa ini dapat berlangsung cepat (debris flow) atau perlahan (rayapan tanah), bergantung pada jenis material dan kondisi pemicu. Jenis-Jenis Longsor Longsor Translasi – massa tanah bergerak di bidang gelincir datar. Longsor Rotasi – pergerakan melengkung seperti sendok. Aliran Bahan Rombakan (Debris Flow) – campuran tanah, batu, dan air mengalir cepat. Runtuhan Batuan (Rock Fall) – jatuhan batu dari tebing terjal. Rayapan Tanah (Creep) – pergerakan lambat, sering merusak bangunan secara bertahap. Penyebab Utama Longsor Faktor Alam Curah hujan tinggi dan berkepanjangan Kemiringan lereng terjal Jenis tanah labil (lempung, vulkanik muda) Getaran gempa bumi Faktor Aktivitas Manusia Penebangan hutan dan hilangnya vegetasi penahan tanah Pemotongan lereng untuk jalan dan permukiman Drainase buruk yang meningkatkan kejenuhan air tanah Beban bangunan berlebih di lereng Dampak Longsor Korban jiwa dan luka-luka Kerusakan rumah, jalan, dan fasilitas umum Terputusnya akses ekonomi dan logistik Degradasi lingkungan dan sedimentasi sungai Trauma sosial bagi masyarakat terdampak Pola Longsor di Indonesia Sebaran longsor banyak terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, dan wilayah pegunungan lainnya. Musim hujan dan pancaroba sering menjadi periode dengan kejadian tertinggi. Mitigasi dan Pencegahan Longsor Upaya Struktural Pembuatan terasering Tembok penahan tanah Perbaikan sistem drainase Rekayasa lereng sesuai kaidah geoteknik Upaya Non-Struktural Reboisasi dan aksi tanam pohon Pemetaan wilayah rawan Edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi Pengaturan tata ruang berbasis risiko Peran Masyarakat dan Pemerintah Pemerintah bertanggung jawab pada regulasi tata ruang, peringatan dini, dan penanganan darurat. Masyarakat berperan melalui kewaspadaan lokal, pelaporan tanda-tanda longsor (retakan tanah, pohon miring), serta menjaga tutupan vegetasi. Tanda-Tanda Awal Longsor Retakan tanah memanjang di lereng Mata air baru atau air keruh keluar dari tanah Pohon, tiang, atau bangunan miring Suara gemuruh dari dalam tanah (Gholib) Referensi: Varnes, D.J. – Slope Movement Types and Processes Highland, L.M. & Bobrowsky, P. – The Landslide Handbook Cruden, D.M. & Varnes, D.J. – Landslide Types and Processes Soemarwoto, Otto – Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan Hardiyatmo, H.C. – Penanganan Tanah Longsor dan Erosi BNPB – Pedoman Mitigasi Bencana Geologi

Banjir Bandang Mengguncang Wilayah Rawan: Bencana Cepat, Dampak Mematikan

Jayawijaya - Banjir bandang merupakan salah satu bencana hidrometeorologi paling mematikan karena datang tiba-tiba, bergerak cepat, dan membawa material berbahaya seperti batu, kayu, dan lumpur. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian banjir bandang meningkat seiring perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan degradasi daerah aliran sungai (DAS). Indonesia dengan curah hujan tinggi dan topografi curam termasuk wilayah yang rentan. Apa Itu Banjir Bandang? Banjir bandang adalah aliran air besar yang terjadi secara mendadak dari hulu sungai atau lereng pegunungan akibat curah hujan ekstrem, jebolnya bendungan alami, atau akumulasi material di sungai. Berbeda dengan banjir biasa, banjir bandang membawa energi tinggi sehingga daya rusaknya sangat besar. Penyebab Utama Banjir Bandang Faktor Alam Hujan intensitas tinggi dalam waktu singkat Topografi curam dan lembah sempit Tanah jenuh air dan mudah tererosi Faktor Aktivitas Manusia Deforestasi dan penebangan liar Pertambangan dan pembukaan lahan Permukiman di sempadan sungai Drainase dan pengelolaan DAS yang buruk Dampak yang Ditimbulkan Korban jiwa dan luka-luka Kerusakan total rumah dan fasilitas umum Terputusnya akses jalan dan jembatan Kehilangan mata pencaharian Pencemaran air dan kerusakan ekosistem Pola Kejadian di Indonesia Banjir bandang kerap terjadi di wilayah pegunungan dan hulu DAS seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara. Musim hujan dan pancaroba menjadi periode dengan risiko tertinggi. Mitigasi dan Pencegahan Upaya Struktural Normalisasi dan rehabilitasi sungai Pembangunan sabo dam dan pengendali sedimen Perbaikan drainase dan tanggul Rekayasa lereng dan konservasi tanah Upaya Non-Struktural Reboisasi dan aksi tanam pohon Pengelolaan DAS terpadu Pemetaan wilayah rawan dan sistem peringatan dini Edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi Peran Pemerintah dan Masyarakat Pemerintah berperan dalam tata ruang berbasis risiko, penegakan hukum lingkungan, dan respons darurat. Masyarakat berperan melalui kewaspadaan dini, tidak bermukim di zona rawan, serta menjaga hutan dan sungai. Tanda-Tanda Awal Banjir Bandang Hujan sangat lebat di hulu Air sungai keruh dan naik cepat Suara gemuruh dari arah hulu Material kayu/batu terbawa arus (Gholib) Referensi: Ward, R.C. & Robinson, M. – Principles of Hydrology Chow, V.T., Maidment, D.R., & Mays, L.W. – Applied Hydrology Soewarno – Hidrologi: Aplikasi Metode Statistik untuk Analisis Data Hardiyatmo, H.C. – Penanganan Tanah Longsor dan Erosi BNPB – Pedoman Mitigasi Bencana Hidrometeorologi FAO – Watershed Management