Artikel KPU Kab. Jayawijaya

Lebih Percaya Influencer atau Pakar? Pertarungan Otoritas Pengetahuan di Era Media Sosial

Jayawijaya - Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan mempercayai informasi. Jika sebelumnya pakar akademisi, dokter, ilmuwan, dan professional menjadi rujukan utama, kini influencer dengan jutaan pengikut sering kali lebih dipercaya publik, bahkan dalam isu-isu kompleks seperti kesehatan, ekonomi, hingga politik. Fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial: siapa yang sebenarnya layak dipercaya?

Baca juga : Tirto Adhi Surjo: Perintis Pers Nasional dan Pelopor Kesadaran Politik Bumiputra

Mengapa Influencer Lebih Didengar?

Beberapa faktor menjelaskan mengapa influencer kerap memenangkan perhatian publik:

  • Kedekatan emosional: Gaya komunikasi santai dan personal.
  • Aksesibilitas: Konten mudah dipahami dan cepat dikonsumsi.
  • Algoritma media sosial: Popularitas memperkuat visibilitas.
  • Identifikasi sosial: Pengikut merasa “serupa” dengan influencer.

Dalam banyak kasus, kepercayaan dibangun bukan dari keahlian, melainkan dari relasi dan persepsi keaslian.

Peran Pakar: Otoritas yang Mulai Tergeser

Pakar memiliki legitimasi melalui pendidikan, riset, dan pengalaman profesional. Namun, di ruang digital, suara pakar sering kalah karena:

  • Bahasa akademik dianggap rumit
  • Kurangnya kehadiran di platform populer
  • Minimnya kemampuan komunikasi publik
  • Proses ilmiah yang lambat dibanding viralitas konten

Akibatnya, informasi berbasis data sering tenggelam di antara opini dan sensasi.

Risiko Ketika Influencer Mengalahkan Pakar

Dominasi influencer dalam isu-isu teknis membawa risiko serius:

  • Misinformasi dan disinformasi
  • Keputusan publik yang keliru
  • Menurunnya literasi sains
  • Polarisasi opini masyarakat

Contoh nyata terlihat pada isu kesehatan, investasi, hingga lingkungan, di mana saran populer sering kali bertentangan dengan rekomendasi ilmiah.

Perspektif Sosiologis dan Psikologis

Sosiolog menyebut fenomena ini sebagai pergeseran dari otoritas rasional ke otoritas karismatik, sebagaimana dikemukakan Max Weber. Dalam psikologi sosial, efek halo dan confirmation bias membuat publik lebih mudah mempercayai figur yang disukai, bukan yang paling kompeten. Dengan kata lain, emosi sering mengalahkan rasionalitas dalam membangun kepercayaan.

Menuju Kolaborasi: Influencer dan Pakar

Alih-alih dipertentangkan, sejumlah kalangan mendorong kolaborasi influencer dan pakar. Influencer dapat menjadi jembatan komunikasi, sementara pakar menjaga akurasi informasi.

Model ini mulai diterapkan dalam:

  • Kampanye kesehatan publik
  • Edukasi keuangan
  • Isu perubahan iklim
  • Literasi hukum dan politik

Kolaborasi ini dinilai lebih efektif menjangkau masyarakat luas tanpa mengorbankan kebenaran ilmiah.

Tanggung Jawab Etis di Ruang Digital

Baik influencer maupun pakar memiliki tanggung jawab moral:

  • Influencer perlu menyadari dampak luas dari konten mereka
  • Pakar dituntut lebih aktif dan komunikatif di ruang publik
  • Platform digital harus memperkuat moderasi dan verifikasi

Kepercayaan publik adalah aset sosial yang harus dijaga bersama.

(Gholib)

Referensi:

  1. Max Weber – Economy and Society
  2. Neil Postman – Amusing Ourselves to Death
  3. Tom Nichols – The Death of Expertise
  4. Cass R. Sunstein – #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media
  5. Zygmunt Bauman – Liquid Modernity
  6. Daniel Kahneman – Thinking, Fast and Slow 
  7. Nicholas Carr – The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 62 kali