Artikel KPU Kab. Jayawijaya

Tirto Adhi Surjo: Perintis Pers Nasional dan Pelopor Kesadaran Politik Bumiputra

Jayawijaya - Nama Tirto Adhi Surjo menempati posisi penting dalam sejarah Indonesia sebagai pelopor pers nasional, tokoh pergerakan awal, dan penggagas kesadaran politik bumiputra melalui media cetak. Ia hidup pada masa ketika kolonialisme Belanda tidak hanya menguasai tanah dan ekonomi, tetapi juga wacana dan informasi. Melalui pers, Tirto menjadikan kata-kata sebagai alat perlawanan.

Baca juga : Kudeta Diam-Diam: Ketika Kekuasaan Bergeser Tanpa Dentuman Senjata

Latar Belakang dan Pendidikan

Tirto Adhi Surjo lahir di Blora, Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19 dari lingkungan priyayi Jawa. Ia memperoleh pendidikan Barat yang relatif baik untuk ukuran bumiputra kala itu, termasuk mengenyam pendidikan kedokteran di STOVIA (meskipun tidak sampai selesai).

Pendidikan ini memberinya:

  • Akses terhadap bahasa Belanda
  • Pemahaman sistem kolonial
  • Kesadaran akan ketimpangan sosial

Kesadaran tersebut kelak menjadi bahan bakar perjuangannya.

Mendirikan Pers sebagai Alat Perlawanan

Tirto dikenal sebagai wartawan bumiputra pertama yang profesional. Ia mendirikan dan mengelola sejumlah surat kabar, di antaranya:

  • Medan Prijaji (1907)
  • Soeloeh Keadilan
  • Poetri Hindia

Melalui Medan Prijaji, Tirto:

  • Membela hak bumiputra
  • Mengkritik kebijakan kolonial
  • Menyoroti ketidakadilan hukum
  • Memberi ruang suara bagi pribumi

Pers baginya bukan sekadar berita, melainkan alat emansipasi dan pendidikan politik.

Pelopor Organisasi Bumiputra

Selain jurnalis, Tirto juga aktif dalam dunia organisasi. Ia terlibat dalam pembentukan Sarekat Dagang Islam (cikal bakal Sarekat Islam), yang bertujuan melindungi kepentingan ekonomi dan sosial pedagang bumiputra. Gagasannya tentang organisasi modern:

  • Mendorong kesadaran kolektif
  • Mengajarkan solidaritas sosial
  • Menjadi fondasi gerakan nasional selanjutnya

Peran ini menjadikan Tirto sebagai jembatan antara pers, ekonomi, dan politik.

Represi Kolonial dan Akhir Tragis

Keberanian Tirto membuatnya menjadi sasaran pemerintah kolonial. Ia mengalami:

  • Sensor pers
  • Kriminalisasi tulisan
  • Pembuangan (interniran) ke Ambon

Dalam pengasingan, kehidupan Tirto merosot secara ekonomi dan kesehatan. Ia wafat dalam kondisi miskin dan terlupakan, jauh dari gemerlap perjuangan yang pernah ia nyalakan.

Ironisnya, tokoh yang membangunkan kesadaran bangsa justru dimatikan secara sunyi oleh sejarah kolonial.

Pengakuan Sejarah dan Warisan Intelektual

Pengakuan terhadap jasa Tirto datang terlambat. Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Warisan terbesarnya meliputi:

  • Tradisi pers kritis
  • Jurnalisme berpihak pada keadilan
  • Kesadaran politik rakyat
  • Perlawanan non-kekerasan melalui wacana

Tirto juga menjadi inspirasi tokoh fiktif Minke dalam karya Pramoedya Ananta Toer.

Relevansi Tirto di Era Kontemporer

Di tengah tantangan:

  • Kebebasan pers
  • Disinformasi digital
  • Tekanan politik terhadap media

Pemikiran dan keteladanan Tirto Adhi Surjo tetap relevan. Ia mengajarkan bahwa pers tidak netral secara moral, tetapi harus berpihak pada kebenaran dan keadilan.

(Gholib)

Referensi:

  1. Pramoedya Ananta Toer – Sang Pemula
  2. Ahmad Adam – Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan
  3. Takashi Shiraishi – Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912–1926
  4. Henk Schulte Nordholt (ed.) – Indonesia dalam Arus Sejarah
  5. Taufik Abdullah – Sejarah dan Masyarakat
  6. George McTurnan Kahin – Nationalism and Revolution in Indonesia

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Telah dilihat 89 kali