Kudeta Diam-Diam: Ketika Kekuasaan Bergeser Tanpa Dentuman Senjata
Jayawijaya - Istilah “kudeta diam-diam” (silent coup atau soft coup) merujuk pada pergeseran kekuasaan politik yang terjadi tanpa kekerasan terbuka, namun berdampak fundamental terhadap tatanan demokrasi dan konstitusi. Berbeda dari kudeta militer klasik, kudeta jenis ini kerap berlangsung perlahan, legal-formal, dan terselubung, sehingga sulit dikenali publik. Fenomena ini menjadi perbincangan luas seiring meningkatnya praktik pelemahan institusi demokrasi dari dalam.
Apa yang Dimaksud Kudeta Diam-Diam?
Secara konseptual, kudeta diam-diam adalah:
Pengambilalihan atau konsolidasi kekuasaan secara sistematis melalui mekanisme yang tampak sah, tetapi mengikis prinsip demokrasi, checks and balances, serta kedaulatan rakyat. Ciri utamanya bukan kekerasan fisik, melainkan:
- Manipulasi hukum dan regulasi
- Kooptasi lembaga negara
- Pengendalian narasi publik
- Pelemahan oposisi dan pers
Instrumen yang Kerap Digunakan
Kudeta diam-diam biasanya memanfaatkan instrumen berikut:
1. Legislasi dan Regulasi
Perubahan undang-undang dilakukan untuk:
- Memperpanjang masa jabatan
- Melemahkan pengawasan
- Memusatkan kewenangan eksekutif
2. Penundukan Lembaga Penegak Hukum
Lembaga hukum dan pengadilan dijadikan alat legitimasi kekuasaan, bukan pengontrolnya.
3. Kooptasi Media dan Opini Publik
Narasi dikendalikan melalui:
- Pembingkaian isu
- Stigmatisasi kritik
- Polarisasi masyarakat
4. Normalisasi Keadaan Darurat
Situasi krisis bencana, pandemi, atau konflik digunakan untuk:
- Menjustifikasi pembatasan hak
- Menguatkan kekuasaan eksekutif
Mengapa Sulit Dideteksi?
Kudeta diam-diam sulit dikenali karena:
- Dilakukan melalui prosedur “resmi”
- Tidak melanggar hukum secara eksplisit
- Didukung narasi stabilitas dan keamanan
- Terjadi bertahap (gradual erosion)
Akibatnya, publik sering baru menyadari ketika demokrasi telah melemah secara struktural.
Dampak terhadap Demokrasi dan Negara Hukum
Konsekuensi dari kudeta diam-diam antara lain:
- Hilangnya independensi lembaga negara
- Melemahnya supremasi hukum
- Menyusutnya ruang kebebasan sipil
- Demokrasi berubah menjadi prosedural semata
Negara tetap memiliki pemilu dan parlemen, namun substansi kedaulatan rakyat tereduksi.
Kudeta Diam-Diam dalam Perspektif Teori Politik
Dalam kajian ilmu politik dan hukum tata negara, fenomena ini berkaitan dengan:
- Democratic backsliding
- Authoritarian legalism
- Illiberal democracy
Para ilmuwan menegaskan bahwa ancaman terbesar demokrasi modern justru datang dari aktor yang terpilih secara demokratis, tetapi kemudian merusak sistem dari dalam.
Peran Masyarakat Sipil dan Pers
Pers bebas dan masyarakat sipil menjadi benteng utama menghadapi kudeta diam-diam. Tanpa:
- Media independen
- Akademisi kritis
- Organisasi masyarakat
Proses erosi demokrasi akan berlangsung tanpa perlawanan berarti.
(Gholib)
Referensi:
- Steven Levitsky & Daniel Ziblatt – How Democracies Die
- Kim Lane Scheppele – Autocratic Legalism
- Fareed Zakaria – The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad
- Juan J. Linz – The Breakdown of Democratic Regimes
- Montesquieu – The Spirit of the Laws
- Giovanni Sartori – Democracy Theory