Hamengku Buwono: Raja Bijaksana Penegak Budaya dan Penjaga Martabat Mataram Islam
Wamena, Nama Hamengku Buwono melekat kuat dalam sejarah dan budaya Nusantara. Ia bukan sekadar gelar raja, tetapi simbol kepemimpinan, kebijaksanaan, dan pelestarian budaya Jawa-Islam. Sejak berdirinya Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755, para sultan bergelar Hamengku Buwono (HB) telah memegang peranan penting, tidak hanya dalam sejarah kerajaan, tetapi juga dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Latar Belakang: Dari Mataram Islam ke Kasultanan Yogyakarta
Kerajaan Mataram Islam, yang semula berpusat di Kotagede dan kemudian Plered, mengalami konflik perebutan kekuasaan pada abad ke-18. Perpecahan internal antara pewaris tahta menyebabkan campur tangan VOC (Belanda) yang kemudian melahirkan Perjanjian Giyanti (1755). Melalui perjanjian ini, kerajaan Mataram dibagi dua: Kasunanan Surakarta, diperintah oleh Paku Buwono III, dan Kasultanan Yogyakarta, dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Dengan berdirinya Yogyakarta, lahirlah garis keturunan raja-raja Hamengku Buwono, yang hingga kini tetap memainkan peran penting dalam sejarah budaya dan politik Indonesia.
Hamengku Buwono I: Pendiri dan Arsitek Budaya Kasultanan Yogyakarta
Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755–1792) adalah sosok pendiri dan arsitek pertama Kasultanan Yogyakarta. Nama lengkapnya Raden Mas Sujana, adik dari Paku Buwono II, yang dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan politik dan budaya Jawa dari dominasi Belanda. Setelah mendirikan kerajaan baru di Yogyakarta, Hamengku Buwono I membangun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1756. Keraton ini bukan sekadar istana, melainkan pusat spiritual, budaya, dan pemerintahan. Arsitekturnya menggambarkan falsafah Jawa-Islam: keseimbangan antara dunia lahir dan batin. Sultan Hamengku Buwono I juga merancang tata kota Yogyakarta yang berpola kosmologis menghubungkan Gunung Merapi, Keraton, dan Laut Selatan sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Filosofi Kepemimpinan: Manunggaling Kawula Gusti
Salah satu prinsip kepemimpinan Hamengku Buwono adalah “Manunggaling Kawula Gusti” kesatuan antara rakyat dan pemimpin. Falsafah ini mengandung makna bahwa seorang raja tidak hanya penguasa, tetapi juga pelindung dan pelayan rakyatnya. Dalam naskah-naskah keraton, Sultan Hamengku Buwono I disebut sebagai “Khalifatullah ing Ngayogyakarta Hadiningrat”, yang berarti wakil Tuhan di bumi. Namun kekuasaannya bukan bersifat absolut, melainkan didasarkan pada tanggung jawab moral, spiritual, dan sosial. Prinsip inilah yang menjadikan para penerus Hamengku Buwono dihormati bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai tokoh panutan moral dan budaya.
(Gholib)
Referensi:
- Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi, 2008.
- Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press, 2007.
- Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid II. Jakarta: Gramedia, 1996.