Laksamana Malahayati: Laksamana Perempuan Pertama dari Aceh
Wamena — Biasanya gelar laksamana disandang oleh laki-laki, namun ada satu wanita asal Indonesia yang menyandang gelar laksamana dialah Laksamana Malahayati. Seorang pahlawan perempuan yang gigih dan teguh melawan penjajahan Belanda dikala itu.
Sejarah maritim Indonesia mencatat nama Keumalahayati atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati, seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam yang hidup pada abad ke-16. Ia tidak hanya dikenal sebagai salah satu panglima perang paling ditakuti, tetapi juga diakui sebagai laksamana perempuan pertama di dunia yang diangkat secara profesional.
Lahir sekitar tahun 1550 M di Aceh Besar, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan maritim. Ayah dan kakeknya adalah laksamana Kesultanan Aceh, menanamkan semangat kelautan dan militer sejak dini. Malahayati menempuh pendidikan di Akademi Militer Ma'had Baitul Maqdis, khusus pada jurusan Angkatan Laut, di mana ia mengasah strategi perang dan taktik maritim.
Baca Juga : Profil dan Biografi Atenius Murip, Bupati Jayawijaya Periode 2024 - 2029
Membalas Dendam, Memimpin Pasukan Elit Janda Perang
Perjuangan utama Laksamana Malahayati adalah mempertahankan kedaulatan Kesultanan Aceh dari upaya kolonialisme bangsa Eropa, terutama Portugis dan Belanda.
Titik balik perjuangannya terjadi setelah suaminya, seorang perwira, gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru. Walau diliputi duka namun semangat untuk membalas dendamnya membara, Malahayati mengajukan gagasan radikal kepada Sultan: membentuk armada perang yang seluruhnya terdiri dari wanita.
Pasukan inilah yang kemudian dikenal sebagai Inong Balee (Pasukan Perempuan Janda Perang), yang beranggotakan sekitar 2.000 prajurit yang senasib dengannya. Malahayati memimpin langsung armada tersebut dari markas mereka di Teluk Krueng Raya, Aceh.
Momen Kunci: Duel Maut dengan De Houtman
Aksi paling heroik Malahayati terjadi pada 11 September 1599, ketika ia diperintahkan Sultan untuk mengusir dua kapal dagang Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan adiknya, Frederik de Houtman, yang mencoba memaksa masuk ke perairan Aceh untuk memonopoli rempah-rempah.
Dalam pertempuran laut yang sengit, Laksamana Malahayati memimpin pasukan Inong Balee yang berani mati. Pertempuran mencapai puncaknya saat Malahayati berduel satu lawan satu dengan Cornelis de Houtman di geladak kapal musuh. Dalam duel tersebut, Malahayati berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dengan senjata tradisional rencong, memberikan pukulan telak pertama bagi ambisi Belanda di Nusantara.
Fakta-Fakta dan Pengukuhan Pahlawan
Fakta Menarik Laksamana Malahayati
- Panglima Wanita Pertama: Malahayati adalah laksamana wanita pertama di dunia yang diakui secara historis memimpin angkatan perang.
- Armada Inong Balee: Pasukan elitnya terdiri dari janda prajurit yang memiliki motivasi tinggi untuk membalas kematian suami mereka di medan perang.
- Diplomat Ulung: Selain perang, Malahayati juga memimpin perundingan penting dengan utusan Inggris, James Lancaster, pada tahun 1601.
- Penghormatan Negara: Namanya diabadikan pada kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Malahayati.
Pengesahan Pahlawan Nasional
Jasa dan perjuangan Laksamana Malahayati diakui secara resmi oleh negara setelah melalui proses panjang. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 9 November 2017.
Dasar hukum pengangkatan gelar Pahlawan Nasional Malahayati adalah:
- Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017, yang ditetapkan pada tanggal 6 November 2017.
Laksamana Malahayati bukan hanya seorang komandan militer; ia adalah simbol kekuatan, ketahanan, dan kedaulatan maritim Aceh. (CHCW)